
Hampir satu abad sudah berlalu sejak Piala Dunia pertama kali digelar. Dari turnamen kecil yang hanya diikuti 13 negara di Uruguay pada 1930, kini Piala Dunia telah berkembang menjadi perhelatan olahraga terbesar di planet ini, dengan edisi 2026 yang mencatatkan rekor 48 negara peserta sekaligus tiga negara tuan rumah.
Menyusuri sejarah panjang turnamen ini membantu kita memahami mengapa edisi 2026 begitu istimewa, sekaligus melihat bagaimana sepak bola dunia terus berevolusi mengikuti perubahan zaman, teknologi, dan geopolitik global.
Piala Dunia pertama digelar di Uruguay pada 1930, hanya diikuti 13 negara, dengan Uruguay sendiri yang akhirnya keluar sebagai juara di hadapan publiknya sendiri. Turnamen ini lahir dari gagasan Presiden FIFA saat itu, Jules Rimet, yang ingin menciptakan kompetisi sepak bola internasional setelah sepak bola sukses masuk dalam Olimpiade.
Namun perjalanan turnamen ini tidak mulus. Edisi 1938 menjadi yang terakhir sebelum Perang Dunia II meletus, memaksa FIFA menghentikan penyelenggaraan selama 12 tahun. Piala Dunia baru kembali digelar pada 1950 di Brasil, sebuah edisi yang dikenang lewat tragedi "Maracanazo", kekalahan mengejutkan Brasil dari Uruguay di laga pamungkas yang menjadi salah satu momen paling getir dalam sejarah sepak bola negara tersebut.
Dekade ini menjadi saksi kebangkitan Brasil sebagai kekuatan dominan sepak bola dunia, dengan trofi juara pada 1958 dan 1962. Sosok Pele muncul sebagai ikon global, dan puncaknya terjadi pada Piala Dunia 1970 di Meksiko, ketika Brasil meraih gelar juara ketiga mereka di Estadio Azteca, stadion yang kini kembali menjadi panggung edisi 2026.
Format turnamen mulai berkembang pada periode ini, dengan jumlah peserta yang bertambah dari 16 menjadi 24 tim pada edisi 1982. Era ini juga melahirkan salah satu momen paling dikenang dalam sejarah Piala Dunia, ketika Diego Maradona membawa Argentina juara pada 1986, kembali di Estadio Azteca, lewat performa individu yang hingga kini masih dibicarakan sebagai salah satu yang terbaik sepanjang sejarah turnamen.
Jerman Barat juga mencatatkan dominasi di periode ini dengan gelar juara pada 1974 dan 1990, menegaskan reputasi mereka sebagai salah satu kekuatan sepak bola paling konsisten di Eropa.
Format 32 tim mulai diperkenalkan pada edisi 1998 di Prancis, menggantikan format 24 tim yang sudah berjalan sejak 1982. Perubahan ini bertahan selama lebih dari dua dekade sebelum akhirnya digantikan format 48 tim pada edisi 2026. Periode ini juga mencatatkan sejarah baru ketika Korea Selatan dan Jepang menjadi co-host Piala Dunia 2002, kali pertama turnamen ini digelar di lebih dari satu negara.
Dekade ini menjadi saksi persaingan ketat dua ikon terbesar sepak bola modern, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, meski keduanya baru benar-benar merasakan momen puncak Piala Dunia di waktu yang berbeda. Argentina akhirnya meraih gelar juara dunia pada edisi 2022 di Qatar lewat performa gemilang Messi, menutup penantian panjang publik Argentina sejak 1986.
Edisi 2022 juga mencatatkan sejarah sebagai Piala Dunia pertama yang digelar di kawasan Timur Tengah, sekaligus yang pertama digelar pada akhir tahun karena pertimbangan cuaca ekstrem di kawasan tersebut.
Edisi 2026 menandai perubahan paling signifikan sejak ekspansi 1998. Jumlah peserta melonjak dari 32 menjadi 48 tim, jumlah pertandingan meningkat hampir dua kali lipat menjadi 104 laga, dan untuk pertama kalinya turnamen digelar oleh tiga negara sekaligus: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Pembahasan lengkap mengenai perubahan format ini bisa dibaca pada artikel FIFA World Cup 2026: Era Baru Sepak Bola Dunia.
Meksiko sendiri mencatatkan sejarah sebagai negara pertama yang menjadi tuan rumah atau co-host Piala Dunia pria sebanyak tiga kali, setelah edisi 1970, 1986, dan kini 2026. Sementara itu, baik Amerika Serikat maupun Kanada turut menambah daftar negara yang merasakan kehormatan menjadi tuan rumah turnamen empat tahunan terbesar di dunia ini.
Jika ditelusuri lebih jauh, ada pola menarik yang terus berulang di setiap edisi Piala Dunia: favorit di atas kertas tidak selalu menjadi juara akhir, dan selalu ada kuda hitam yang muncul mengejutkan dunia. Pola ini relevan untuk dicermati saat membahas siapa saja kandidat juara di edisi 2026 ini, yang bisa dibaca lebih lengkap pada artikel Kandidat Juara FIFA World Cup 2026.
Rekor-rekor individu maupun tim juga terus bertambah di setiap edisi. Beberapa di antaranya berpotensi pecah di turnamen tahun ini, sebuah topik yang dibahas tuntas pada artikel Rekor yang Bisa Pecah di World Cup 2026.
Memahami sejarah panjang Piala Dunia membantu penggemar menghargai betapa besar perjalanan yang telah ditempuh turnamen ini, dari kompetisi sederhana yang hanya diikuti belasan negara, menjadi perhelatan global yang kini menyatukan hampir seluruh penjuru dunia dalam satu panggung yang sama. Edisi 2026 bukan hanya soal angka dan statistik baru, tapi juga kelanjutan dari narasi panjang yang telah dibangun sejak hampir satu abad lalu.
Piala Dunia pertama digelar pada 1930 di Uruguay, diikuti 13 negara, dengan Uruguay sendiri yang keluar sebagai juara.
Karena Perang Dunia II yang melanda dunia, FIFA terpaksa menghentikan penyelenggaraan turnamen selama 12 tahun, sebelum kembali digelar pada 1950 di Brasil.
Meksiko menjadi negara pertama yang menjadi tuan rumah atau co-host Piala Dunia pria sebanyak tiga kali, yaitu pada edisi 1970, 1986, dan 2026.
Perubahan format terbesar terjadi pada edisi 2026, dengan jumlah peserta melonjak dari 32 menjadi 48 tim dan turnamen digelar oleh tiga negara sekaligus untuk pertama kalinya.